Kamis, 07 Mei 2020

Barangkali Rindu

Barangkali rindu
Bila kutemukan bayang mu dirintik hujan

Barangkali rindu
Bila semua orang yang mirip
Ku kira kamu

Aku dan kenangan
Yang hidup, yang menemani
Menyemat rindu
Menuai duka
Sedang kesedihan yang terus hadir
Tapi aku tetap menunggu
Memandang rinai hujan

Barangkali rindu
Jika setiap proses yang terlewati
Bersama kembali terngiang

Barangkali rindu
Hingga sesak seringkali menyapa
Hanya dari selembar gambar

Barangkali hanya aku yang rindu
Jika cinta bisa membunuh
Sudah lama aku mati

Cinta pada waktu yang salah
Menciptakan ruang rindu yang merobek kedamaian
Hati resah, air mata berurai

Hanya dengan mengingat Tuhan
Hati pun menguat

Biarkan lah rindu
Hingga iklas menyapu kelelahan

Biarkan lah rindu,
Sebab kebahagiaan pernah datang
Dibawa oleh sesosok manusia
Yang kemudian pergi, hilang
Membawa setengah hati

Biarkan lah rindu
Hingga digantikan sepotong hati yang baru

(Gantung, 8 Mei 2020)
Early Rindayani



Senin, 20 Januari 2020

Takdir mengenang 20 Januari

Takdir
(21 Januari 2020)
.
Mungkin ini takdir,
Jika ku temukan sejuk senyum mu
Di kala rintik hujan mendera
Atau mungkin belenggu kenangan
Yang tak pernah pergi
Sebab aku masih di sini,
Teguh menunggu hujan
Untuk menjemput engkau yang mengarungi lautan,
Dan mungkin tak akan pulang

Kamis, 04 Januari 2018

Hukum dan Konservasi Lingkungan

Hukum dan Konservasi Lingkungan
Oleh: Early Rindayani

   Di luar sana banyak orang-orang serakah yang bangga dengan kelihaiannya mengeruk kekayaan bumi. Mereka dengan pintarnya mendapat surat izin dengan berbagai cara. Mereka mengeruk bumi, terus-menerus merusak alam. Contohnya kasus kapal isap yang ada di Kepulauan Bangka Belitung. Sudah sangat jelas masyarakat menolak keberadaannya karena merusak lingkungan, tapi yah sampai saat ini masih tetap "begitu-begitu saja".
   Seperti pemikiran " Wak Yati" bahwa hukum itu sampah. Dan memang benar bahwa hukum yang ada hanya akan menjadi sampah apabila pihak-pihak yang terlibat di dalamnya bertindak tidak adil, tidak jujur, dan tidak memihak pada kebenaran. Sehingga patutlah ada lirik lagu yang menyebutkan hukum itu bisa dibeli. Dan untuk dapat membeli hukum, tentulah kita harus menjadi orang berUang. Lagi dan lagi, harta selalu menjadi teman yang disenangi.
   Bahkan media pun dapat dibeli. Sehingga kita harusnya belajar untuk tidak percaya pada satu pihak. Di TV ataupun di media sosial yang lain seringkali diberitakan sesuatu secara sepihak. Berita-berita hoax pun bermunculan. Di salah satu stasiun televisi pun kadang menyiarkan kampanye suatu partai. Bilangnya si Bapak Ini akan memajukan Negeri jadi pilih lah Bapak Ini saja. Kenapa tidak sekalian di umumkan, bahwa si Bapak juga akan membagikan kaos gratis, bahan sembako, dan menghadirkan hujan duit sehingga diharapkan para masyarakat merapat ke Lapangan A, karena si Bapak mau pidato.
   "Aku mengerti bahwa dunia tidak hanya sebesar Kampung Durian Runtuh". Dimana Upin Ipin masih bisa bermain layangan, sedangkan di Jakarta rumah-rumah yang ada harus saling berdempetan, tak ada lapangan. Bahkan, tak jarang ada keluarga yang tidak punya rumah. Hanya beratapkan kardus,beralaskan tanah. Namun, herannya, pembangunan rumah selalu ada. Sebut saja Projek Perumahan MeiMei yang bisa ditebus dengan 2 juta, kalau punya uang. Kenapa tidak diberikan gratis pada masyarakat yang tak punya rumah? Padahal merekalah yang lebih membutuhkan.
   Menjadi berUang akan membuat seseorang berkuasa. Karena Uanglah yang akan menjelma sebagai hukum. Uang yang akan membuat peraturan. Dengan Uang bumi ini bebas untuk dijajah. Alam bebas untuk di eksploitasi. Uang membuat kita lupa bahwa Ada suatu masa di antara masa-masa. Ada suatu musim di antara musim-musim. Saat ketika alam memberikan perlawanan sendiri. Saat ketika hutan, sungai, lembah, membalas sendiri para perusaknya (Tere-Liye 2011).
   Kita perlu untuk membela alam, membela hewan, membela tumbuhan, dan membela lingkungan. Sebab mereka tidak bisa mengatakan pada dunia " Hai guys, tolong dong jangan ngejar-ngejar kita terus. Bentar lagi kita mau punah, lho!". 
Sekarang silahkan renungkan sendiri, seberapa penting konservasi lingkungan dan apa yang bisa kita perbuat sekarang untuk bumi yang semakin sakit.

Senin, 11 Desember 2017

Suatu hari

Di suatu hari tanpa sengaja Dina telat bangun. Hingga akhirnya dia terlambat ke sekolah. Lalu, di tengah jalan Dina berpapasan dengan tukang sayur keliling. Karna takut tidak di izinkan masuk, Dina pun meminta tolong ke bapak tukang sayur untuk bisa masuk sekolah. Alhasil, Dina masuk ke dalam gerobak sayuran dan berhasil melewati gerbang dengan selamat. Setelah berterima kasih ke Pak tukang sayur, Dina langsung berlari masuk ke kelas nya.
Lalu, suatu hari yg lain Dudun juga telat. Tapi dia masuk dengan meloncat pagar, hingga dia pun di hukum utk berjemur di tengah lapangan.
Dan suatu hari yg lain, Andi pun kesiangan, tapi dia bohong dan bilang sakit, lalu membolos.
Dan suatu hari yg lain, seterusnya dan seterusnya...

" selalu ada suatu hari untuk tiap orang. Hari dimana orang-orang malas lalu telat, hari dimana orang-orang tidak malas tapi tetap telat.
Akan selalu ada suatu hari
Hari dimana orang menyesali masa yg telah lalu
Atau mensyukuri waktu yg telah berputar
Pasti akan tiba suatu hari
Hari dimana stres berat melanda
Sehingga dunia terasa sempit
Badanpun langsung sakit
Lantas jalan mana yg akan dipilih
Tetap menghadapi masalah dengan cara Dina atau cara Dundun? 
Ataukah lebih memilih lari dan menyalahkan ke adaan?
Pilihan itu ditentukan
Bukan utk menyalahkan si A atau B
Yg harus di evaluasi adalah diri sendiri
Mau tetap melangkah dan bahagia
Dengan cara yg seperti apa
Entah dengan menimbun harta?
Ataukah dengan bersedekah?
Entah mengumpati jalan yang macet?
Atau tetap bersyukur dengan kesehatan yg tetap tinggal?
Manakah yg akan dipilih?
Silihkan berfikir utk akhir kehidupan

Senin, 01 Agustus 2016

Mungkin Sebuah Nyanyian

Indahnya jadi anak BIOLOGI
Kau tak kan tahu apabila tak mencoba nya
Kau tak kan tahu tanpa menengok ke dalam nya
Betapa menyenangkan nya hidup sebagai calon ilmuwan :D

Mendaki gunung lewati lembah
Demi mendapatkan data penelitian
Kau tak kan tahu sebelum mencoba nya
Melewati kubangan lumpur
dan sawah yang tak berujung

Berkutat di Lab itu cukup mengasyikan
Melihat makhluk kecil yang nampak besar
Sangat lucu, dengan cillia yg bergetar

la la la la la


*baca sambil dinyanyikan :D





Aku Dan Kamu

Percakapan Semu
Berisi omongan kopong tak bernas
Hanya mengangguk dan memamerkan senyum
Adakah kau lelah dengan semua tong yg tak berisi?
Nyaring bunyinya, tapi tak ada manfaatnya

Ada, katamu.
Untuk menampung air yg hujan
Mungkin untuk sembunyi dalam permainan
Ataupun menampung sampah yang berserakan

Kau berfikir dalam keterbalikan
Sedang aku mulai jemu dalam keteraturan
Sepertinya aku akan menjadi kamu
Dan kamu tetaplah kamu

Aku merindukan Diriku
Sedang yang hilang
Entah di mana tersembunyikan
Aku merindukan kamu
Karena kamu adalah Aku
Tapi samar-samar ku lihat
Kau pun mulai menghilang 

Mungkin Puisi

Kehilangan Aku
(Rindayani E. 2016)

Rinai hujan turun
Menyusuri genteng dan masuk ke cerobong asap
Seekor gagak berteriak,
Menyatakan sebuah pencarian
Koakk.. koakkk..
Dia berkata
Adakah yg mengerti?
Yah, sepertinya aku.
Siapa aku?
Aku adalah Aku yg hilang
Seketika senyap
Saat lembayung pelangi muncul
Aku pun hilang